PEDOMAN
TRANSLITERASI ARAB-LATIN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Aninda Aji Siwi
S.Pd.

Oleh:
Miss Tanita Maknab
Putri Rahyu
Nuril Zam Zami Ilman
Nitalia Al Khoriah
Perbandingan Mazhab dan
Hukum
FAKULTAS SYARIAH DAN
HUKUM
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulilah segala puji bagi Allah SWT tuhan
semesta alam yang telah mencurahkan nikmat, taufiq, Inayah, dan karunia-Nya
kepada kami sehingga kamindapat menyelesaikan makalah bahasa Indonesia ini.
Shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga
,sahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Dengan berbagai kekurangan yang menyertainya.
Makalah ini disajikan sebagai bagian dari upaya penulis untuk menjelajah dan
memahami transliterasi bahasa Arab-Latin. kami sadar bahwa terwujudnya makalah
ini adalah berkat bantuan banyak pihak
baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pembicaraan santai, memberikan tanggapan terhadap gagasan
yang kami kemukakan. Untuk itu kepada mereka semua penulis berhutang budi. Kami
mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terwujudnya makalah ini. Secara khusus terima kasih kami mangucapkan kepada Ibu
Aninda Aji Siwi selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia, orang tua yang telah
memberikan dorongan semangat, serta teman-teman yang telah memberikan kritik
dan saran dalam pembuatan makalah ini. Tidak lupa penulis meminta ma’af kepada pembaca bila dalam penulisan makalah
ini banyak kekurangannya.
Akhirnya dengan menengadahkan tangan dan memohon
kehadirat-Nya semoga usaha yang sangat kecil ini dicatat sebagai bagian dari
amal shalih yang membawa jariah. Amin
Wassallam
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
Transliterasi Arab-Latin merupakan salah satu
program penelitian Puslitbang Lektur Agama, Badan Litbang Agama, yang
pelaksanaannya dimulai tahun anggaran 1983/1984.
Transliterasi Arab-Latin memang dihajatkan oleh
bangsa Indonesia karena huruf Arab dipergunakan untuk menulis kitab suci agama
islam berikut penjelasannya dalam (Al-Qur’an dan Hadits). Sementara bangsa
Indonesia mempergunakan huruf Latin
untuk menuliskan bahasanya. Karena ketiadaan pedoman yang baku yang dapat
dipergunakan oleh umat islam di Indonesia yang merupakan mayoritas bangsa
Indonesia, transliterasi Arab-Latin yang terpakai dalam masyarakat banyak
ragamnya. Dalam menuju kearah pembakuan itulah Puslitbang Lektur Agama melalui
penelitian dan seminar berusaha menyusun pedoman yang diharapkan dapat berlaku
secara nasional.
Pedoman transliterasi Arab-Latin yang baku telah
lama didambakan karena ia sangat membantu dalam pemahaman terhadap ajaran dan
perkembangan islam di Indonesia. Umat islam di Indonesia tidak semuanya
mengenal dan menguasai huruf Arab. Badan Litbang Agama, dalam hal ini
Puslitbang Lektur Agama dan instansi lain yang ada hubungannya dengan
kelekturan sangat memerlukan pedoman yang baku tentang transliterasi Arab-Latin
yang dapat dijadikan acuan penelitian dan pengalih hurufan dari Arab ke Latin
dan sebaliknya.
Dari hasil penelitian dan penyajian pendapat para
ahli diketahui bahwa selama ini masyarakat masih menggunakan transliterasi yang
berbeda-beda. Usaha penyeragaman sudah pernah dicoba, baik oleh instansi maupun
perorangan. namun hasilnya belum ada yang bersifat menyeluruh, dipakai oleh
seluruh umat islam di Indonesia. Oleh karena itu dalam mencapai usaha
keseragaman, adanya Pedoman transliterasi Arab-Latin baku dikuatkan dengan
suatu surat keputusan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk
digunakan secara resmi serta bersifat nasional.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sistem
Transliterasi Arab-Latin
Transliterasi
dimaksudkan sebagai pengalihan huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain.
Transliterasi Arab-Latin di sini ialah penyalinan huruf-huruf Arab dengan
huruf-huruf latin beserta perangkatnya. Menurut kamus besar Indonesia,
transliterasi atau alih huruf adalah penggantian huruf dari huruf abjad yang
satu ke abjad yang lain (terlepas dari lafal bunyi kata yang sebenarnya).
Berdasarkan
SKB Menteri Agama dan Menteri P & K RI No. 158/1987 dan No. 0543 b/U/1987 tertanggal
22 Januari 1987
1.
Konsonan Tunggal
Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan
dengan huruf,dalam pedoman ini
sebagian dilambangkan dengan huruf dan
sebagian dilambangkan dengan tanda, dan
sebagian lagi dilambangkan dengan huruf dan
tanda sekaligus.
Huruf Arab
|
Nama
|
Huruf Latin
|
Keterangan
|
ا
|
Alif
|
Tidak
dilambangkan
|
Tidak
dilambangkan
|
ب
|
Bā’
|
B
|
Be
|
ت
|
Tā’
|
T
|
Te
|
ث
|
Sā’
|
S
|
Es ( titik di atas)
|
ج
|
Jīm
|
J
|
Je
|
ح
|
Hā’
|
H
|
Ha (titik di bawah)
|
خ
|
Khā’
|
Kh
|
Ka dan ha
|
د
|
Dāl
|
D
|
De
|
ذ
|
Zāl
|
Ż
|
Zet (
titik di atas)
|
ر
|
Rā’
|
R
|
Er
|
ز
|
Zāi
|
Z
|
Zet
|
س
|
Sīn
|
S
|
Es
|
ش
|
Syīn
|
Sy
|
Es dan Ye
|
ص
|
Shād
|
Sh
|
Es (
titik di bawah)
|
ض
|
Dhād
|
Dh
|
De (
titik di bawah)
|
ط
|
Thā’
|
Th
|
Te(titik
di bawah)
|
ظ
|
Zhā’
|
Zh
|
Zet(
titik di bawah)
|
ع
|
ʿAin
|
‘-ʿ
|
Koma
terbalik (diatas)
|
غ
|
Gain
|
G
|
Ge
|
ف
|
Fā’
|
F
|
Fe
|
ق
|
Qāf
|
Q
|
Qi
|
ك
|
Kāf
|
K
|
Ka
|
ل
|
Lām
|
L
|
El
|
م
|
Mīm
|
M
|
Em
|
ن
|
Nūn
|
N
|
En
|
ه
|
Hā’
|
H
|
We
|
و
|
Wau
|
W
|
Ha
|
ء
|
Hamzah
|
tidak dilambangkan
atau (’-)
|
apostrof, tetapi
lambang ini tidak dipergunakan untuk hamzah di awal kata
|
ي
|
Yā’
|
Y
|
Ye
|
2.
Konsonan
Rangkap
konsonan
rangkap yang disebabkan Syaddah ditulis rangkap.
Contoh
: نزّ ل ditulis nazzalaبهنّ ditulis bihinna
ربّن ditulis rabbana
3.
Tā’
marbūṭahdi akhir kata
Transliterasinya menggunakan :
a.
Arab yang sudah terserap menjadi bahasa
Indonesia, seperti salat, zakat, dan sebagainya.
Contoh
:طَلْحَ
ditulis ṭalhah
فا طمه ditulis faatimah
b. Pada kata yang terakhir dengan tā’ marbūṭah diikuti
oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu
terpisah, maka tā’ marbūṭah itu ditransliterasikan dengan h.
Contoh
: رَوْضَةُ اْلاَطْفَالِ ditulis rauḍah al-aṭfāl
c.
Bila dihidupkan ditulis t.
Contoh
: رَوْضَةُ اْلاَطْفَالِ ditulis rauḍatul aṭfāl
Huruf ta marbuthah di akhir
kata dapat dialihaksarakan sebagai t atau dialihbunyikan sebagai h
(pada pembacaan waqaf/berhenti). Bahasa Indonesia dapat menyerap
salah satu atau kedua kata tersebut.
Transliterasi
|
Transkripsi waqaf
|
Kata serapan
|
|
Haqiqat
|
haqiqah
|
Hakikat
|
|
mu’amalat
|
mu’amalah
|
muamalat, muamalah1
|
|
mu’jizat
|
mu’jizah
|
Mukjizat
|
|
musyawarat
|
musyawarah
|
musyawarat,
musyawarah1
|
|
ru’yat
|
ru’yah
|
rukyat,1
rukyah
|
|
Shalat
|
shalah
|
Salat
|
|
Surat
|
surah
|
surat,2
surah1, 3
|
|
syari’at
|
syari’ah
|
syariat,1
syariah
|
|
Catatan :
1)
Penulisan kata yang disarankan oleh KBBI
2)
Kata ‘surat’ bermakna umum.
3)
Kata ‘surah’ bermakna khusus. Kata ini yang disarankan
oleh KBBI jika yang
dimaksud.
4.
Vokal Pendek
Harakat fathah ditulis a, kasrah
ditulis i, dan ḍammah ditulis u.
Contoh: كَس
ditulis kasara
يَضْرِبُ ditulis yaḍribu
جَعَلَ ditulis ja‘ala
سُئِلَ ditulis su’ila
5.
Vokal
Panj
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf/transliterasinya
berupa huruf dan tanda. Vocal panjang
ditulis, masing-masing dengan tanda hubung (-) diatasnya atau biasa ditulis
dengan tanda caron seperti (â, î, û).
Contoh:
a.
Fathah + alif ditulis a
فلا ditulis fâala
b.
Kasrah +ya’ mati ditulis i
مىشاق ditulismiisaaq
c.
Dammah + wāwu mati ditulis u
أصول ditulis ushuul
قَالَ ditulis qâala
قِيْلَ
ditulis
qiîla
يَقُوْلُ ditulis
yaqûulu
6.
Vokal Rangkap
A.
Fathah + yā’ tanpa dua titik yang dimatikan ditulis ai (أي).
Contoh:
كَيْفَ
ditulis kaifa
B.
Fathah + wāwu mati ditulis au (او).
Contoh:
هَوْلَ
ditulis haula
B.
Vokal-vokal Pendek yang Berurutan dalam
Satu Kata
Vokal-vokal pendek yang berurutan
dalam satu kata, dipisahkan dengan apostrop (’) danapabila ia terletak di tengah atau
akhir kata. Apabila terletak di awal kata, transliterasinya seperti huruf alif,
tidak dilambgkan.
Contoh:
تَأخُذُوْنَ ditulis
ta’khużûna
تُؤْمَرُنَ
ditulis tu’maruna
أُمِرْت ditulis
umirtu
أَكَلَ ditulis akala
C.
Kata
Sandang Alif + Lam (ال)
Transliterasi kata sandang dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a.
Kata sandang diikuti huruf syamsiah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah
ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf yang sama dengan huruf
yang langsung mengikuti kata sandang itu atau huruf lam diganti dengan
huruf yang mengikutinya.
Contoh : اَلرَّحِيْمُ ditulis
ar-Rahîmu
الـرجـال ditulis ar-rijâl.
الرَّجُلُ
ditulis ar-rajulu
لسَّيِّدُا ditulis
as-sayyidu
الشَّمْسُ ditulis as-syamsu
b.
Kata sandang diikuti huruf qamariah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariahditulis
al-.
Contoh
: اَلْمَلِكُ ditulis
al-Maliku
الـكافـر
ditulis al-kâfirûn.
القَلَمُ
ditulis al-qalamu
D.
Huruf Besar
Huruf besar yang disebut juga huruf kapital merupakan unsur
kebahasaan yang mempunyai permasalahan yang cukup rumit.Penggunaan huruf kapital disesuaikan dengan EYD
walaupun dalam sistem tulisan Arab tidak
dikenal. Kata yang didahului oleh kata sandang alif lam, huruf yang ditulis
kapital adalah huruf awal katanya bukan huruf awal kata sandangnya kecuali di
awal kalimat, huruf awal kata sandangnya pun ditulis kapital.
Contoh: البُخاَرِي ditulis
al-Bukhârî
الرِسَالَة
ditulis al-Risâlah
البَيْهَقِي
ditulis al-Baihaqî
المُغْنِي ditulis
al-Mugnî
E.
Kata dalam Rangkaian Frasa atau Kalimat
a.
Ditulis
kata perkata, atau
b.
Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya dalam rangkaian tersebut
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim maupun
huruf, ditulis terpisah, hanya kata-kata tertentu yang penulisannya
dengan huruf Arab sudah lazimnya dirangkaikan dengan kata lain. Karena ada
huruf atau harakat yang dihilangkan, maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan
kata lain yang mengikutinya.
Contoh
:مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلً ditulis
Man istaṭâ’a ilaihi sabîla
وَاِنَّ اللهَ لَهُوَ خَيْرٌ الرَّازِقِيْنَ ditulis
Wa innallâha lahuwa khair
al-râziqîn atau
Wa innallâha lahuwa khair
al-
khairurrâziqîn
Huruf Arab dalam rangkaian mempunyai tiga macam bentuk
menurut letaknya masing-masing: di muka, di tengah dan di belakang, sedang
huruf yang terpisah (tak dirangkaikan) mempunyai bentuk sendiri, kecuali enam
huruf yaitu:
و - ز - ر - ذ - د – ا
tak mungkin tersambung dari belakangnya.
F.
Penyerapan
Kata
Beberapa penulis menggunakan sumber berbahasa Inggris beserta alih
aksaranya.Dalam bahasa Inggris, yang sering digunakan adalah alih aksara
Qalam.Kadang-kadang, perbedaan alih aksara tersebut dengan alih aksara kritis
Indonesia menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan pembacaan. Kata
dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia mengalami penyederhanaan
atau perubahan, baik dalam hal penulisan maupun pengucapannya. Sebagai
contoh, huruf ق (qaf)
pada Irak, Ya’kub, akhlak, fikih, kadar, dan kaidah telah diserap
menjadi k,
sedangkan pada pada Qur’an dan Masjidil Aqsa tetap bentuknya dan
dialihaksarakan sebagai q.
Setiap
kata serapan dapat mengalami satu atau lebih hal-hal berikut:
a.
Pengabaian apostrof (‘) untuk alih aksara ainhidup.
b.
Hamzah hidup tidak dilambangkan.
c.
Hamzah mati di akhir kata tidak dilambangkan.
d.
Pengabaian huruf ya yang ditasydid dengan
huruf sebelumnya dibaca kasrah
e.
Kata
sandang “al” diabaikan atau ditulis bersambung.
f.
Penyederhanaan
alih aksara sh/ṣ dan ts/ṡ menjadi s.
g.
Penyederhanaan
alih aksara dz/ż menjadi z.
h.
Penyederhanaan
alih aksara zh/ẓ menjadi Penyederhanaan alih z.
i.
Perubahan
alih aksara zh/ẓ menjadi l.
j.
Penyederhanaan
alih aksara dh/ḍ menjadi d.
k.
aksara
th/ṭ menjadi t.
l.
Perubahan
alih aksara f menjadi p.
m.
Perubahan
alih aksara q menjadi k.
n.
Perubahan
alih aksara ainmati menjadi k.
o.
Perubahan
alih aksara hamzahmati di tengah kata menjadi k. r.Alih aksara diftong
menggunakan u atau i.
p.
Perubahan dialek dari harakat hidup (a, i) menjadi e.
q.
Penyisipan huruf sesuai harakat huruf ketiga dari akhir (a,
,atau u) pada kata bahasa
r.
dengan huruf kedua dari akhir dibaca mati.
Tabel di bawah ini menyajikan perbandingan
antara alih aksara dan kata serapan
tersebut.
No.
|
Penulisan Arab
|
Alih aksara kritis
|
Alih aksara
diplomatik
|
Perubahan
|
Kata dari alih aksara
kritis
|
Kata serapan
|
1.a.
|
عَ
|
‘a
|
‘a
|
A
|
Assalamu’alaykum,
‘alayhissalam, syari’at, ‘Ashr, ‘Abdullah, ‘Abdul Muththalib, ‘Aisyah, Ibn
‘Abbas, ‘Utsman ibn ‘Affan, Mu’adz, Fir’awn, jama’ah, Jumat
|
Assalamualaikum,
alaihissalam, syariat, Ashar, Abdullah, Abdul Muttalib, Aisyah, Ibnu Abbas,
Utsman bin Affan, Muadz, Firaun, jamaah, Jumat
|
b.
|
عِ
|
‘i
|
‘i
|
I
|
‘Isa, ‘Isya’, ‘Idul
Fithri, ‘Idul Adhha, al-’Iraq, dhu’afa’, dha’if, adh-Dha’ifah
|
Isa, Isya, Idul
Fitri, Idul Adha, Irak, duafa, dhaif, adh-Dhaifah
|
c.
|
عُ
|
‘u
|
‘u
|
U
|
‘Umar ibn
al-Khaththab, ‘Utsman ibn ‘Affan, ‘ulama`
|
Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan, ulama
|
2.
|
ء
|
` atau ‘
|
tidak dilambang-
kan atau ‘ |
tidak dilambang-
kan |
Al-Qur’an,
an-Nasa’iyy
|
Al-Quran, an-Nasai
|
3.
|
ءْ
|
` atau ‘
|
tidak dilambang-
kan |
tidak dilambang-
kan |
Isra’, ‘Isya`,
‘ulama`, dhu’afa`, Muwaththa’
|
Isra, Isya, ulama,
duafa, Muwatta
|
4.
|
ـِيّ
|
Iyy
|
‘a
|
I
|
Yahudiyy, Nashraniyy,
nabiyy, kursiyy, al-Khudriyy, al-Bukhariyy, an-Nasa’iyy, an-Nawawiyy,
al-Albaniyy, ma’shiyyat
|
Yahudi, Nasrani,
nabi, kursi, al-Khudri, al-Bukhari, an-Nasai, an-Nawawi, al-Albani, maksiat
|
5.a.
|
اَلْ
|
al-
|
al-
|
Diabaikan
|
Al-Qur’an, Al-’Iraq,
‘Umar ibn al-Khaththab, al-Bukhariyy, an-Nasa’iyy, an-Nawawiyy, al-Albaniyy
|
Quran, Irak, Umar bin
Khattab, Bukhari, Nasai, Nawawi, Albani
|
b.
|
اَلْ
|
al-
|
al-
|
Al-(ditulis
bersambung)
|
Al-Kitab, Al-Qur’an
|
Alkitab, Alquran
|
6.a.
|
ص
|
Sh
|
ṣ
|
S
|
Masjidil Aqsha,
Bashrah, ikhlash, shadaqah, shahih, shalat, shubh, ‘ashr, tashhih, ma’shiyyat,
mushhaf, Nashraniyy
|
Masjidil Aqsa,
Basrah, ikhlas, sedekah, sahih, salat, subuh, asar, tashih, maksiat, mushaf,
Nasrani
|
b.
|
ث
|
Ts
|
ṡ
|
S
|
hadits, ‘Utsman
|
hadis, Usman
|
7.
|
ﺫ
|
Dz
|
ż
|
Z
|
adzab, adzan,
muadzin, madzhab
|
azab, azan, muazin, mazhab
|
8.
|
ﻅ
|
Zh
|
ẓ
|
Z
|
hafizh, zhahir,
zhalim, zhuhr
|
hafiz, zahir, zalim,
zuhur
|
9.
|
ﻅ
|
Zh
|
ẓ
|
L
|
hafazh, nazhar,
zhahir
|
hafal, nalar, lahir
|
10.
|
ض
|
Dh
|
ḍ
|
D
|
dhu’afa`, haidh,
ridha, Ramadhan, ‘Idul Adhha, Khidhr
|
duafa, haid, rida,
Ramadan, Idul Adha, Khidir
|
11.
|
ط
|
th
|
ṭ
|
T
|
‘Abdul Muththalib,
‘Umar ibn al-Khaththab, Fathimah, ‘Idul Fithri, fithrah, Muwaththa’, sulthan
|
Abdul Muttalib, Umar
bin Khattab, Fatimah, Idul Fitri, fitrah, Muwatta, sultan
|
12.
|
ف
|
F
|
f
|
P
|
fahm, nafs
|
paham, napas
|
13.
|
ق
|
Q
|
q
|
K
|
Ya’qub, al-’Iraq,
aqidah, akhlaq, fiqh, haqiqah, munafiq, shadaqah, taqwa, qaidah, waqf
|
Ya’kub, Irak, akidah,
akhlak, fikih, hakikat, nifak, munafik, sedekah, takwa, kaidah, wakaf
|
14.
|
عْ
|
‘
|
‘
|
K
|
Jama’, da’wah,
ma’shiyyat, mu’jizat, ta’dil
|
Jamak, dakwah,
maksiat, mukjizat, takdil
|
15.
|
ؤْ
|
‘
|
‘
|
K
|
mu’min, ru’yat
|
mukmin, rukyat
|
16.a.
|
ـَوْ
|
Aw
|
au
|
Au
|
Fir’awn, Sawdah
|
Firaun, Saudah
|
b.
|
ـَيْ
|
Ay
|
ai
|
Ai
|
Al-Layl, Layla,
Assalamu’alaykum, Baytullah, Hudzayfah
|
Al-Lail, Laila,
Assalamualaikum, Baitullah, Huzaifah,
|
17.a.
|
ـَ
|
A
|
a
|
E
|
Jama’ah,
Makkah, masjid, shadaqah, syaikh
|
|
b.
|
ئِ
|
I
|
i
|
E
|
Faidah, qaidah
|
Faedah, kaedah
|
18.a.
|
ـَـْ
|
-
|
-
|
sisipan a
|
‘Ashr, fahm, fajr,
khamr, Abu Bakr, Abu Jahl, waqf
|
Asar, paham, fajar,
khamar, Abu Bakar, Abu Jahal, wakaf
|
b.
|
ـِـْ
|
-
|
-
|
sisipan i
|
fiqh, Khidhr
|
fikih, Khidir
|
c.
|
ـُـْ
|
-
|
-
|
sisipan u
|
hukm, shubh, zhuhr
|
hukum, subuh, zuhur
|
G.
Hamzah
a.
Bila terletak di awal kata, maka ditulis berdasarkan bunyi vokal
yangmengiringinya.
إنّ ditulis inna
b.
Bila terletak di akhir kata, maka ditulis dengan lambang apostrof (`).
و طء ditulis wath`un
c.
Bila terletak di tengah kata dan berada setelah vokal hidup, maka ditulis
Vokalnya.
ربا ئب ditulis rabaa`ib
d.
Bila terletak di tengah kata dan dimatikan, maka ditulis dengan
lambang apostrof ( ` ).
تا خذ و ن ditulis ta`khuzuuna.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Transliterasi
merupakan pengalihan huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Sedangkan
transliterasi Arab-Latin merupakan penyalinan huruf Arab dengan huruf-huruf
latin beserta perangkatnya. Transliterasi Arab-Latin memiliki peranan yang
penting . Dikatakan penting karena tidak semua umat islam di Indonesia
menguasai bahasa Arab. Untuk itu transliterasi Arab-Latin ini sangat membantu
dalam pemahaman terhadap ajaran dan perkembangan islam di Indonesia.
B.
Saran
Untuk penulis :
Diharapkan untuk lebih bisa menambahkan atau memperluas pengetahuan tentang
transliterasi Arab-Latin dengan cara memperbanyak buku yang berhubungan dengan
transliterasi Arab-Latin,mengadakan penelitian,dan seminar.
Untuk Pembaca :
Diharapkan agar bisa meningkatkan minat membaca tentang transliterasi
Arab-Latin sehingga pemahaman tentang bahasa Arab khususnya di Indonesia
menjadi lebih baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Srinugraheni, Aninditya dan Suyadi,
2011, Mahir Menulis Karya Ilmiah Bahasa Indonesia,Yogyakarta:Metamorfosa
Press.
Depag, RI, 2003,Pedoman Transliterasi Arab-Latin, Jakarta:Badan Litbang Agama dan
Diklat Keagamaan.