Senin, 16 November 2015

Bahasa Indonesia (Pedoman Transliterasi Arab-Latin )



PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Aninda Aji Siwi S.Pd.

logo-uin-suka-baru-warna.jpg
Oleh:

Miss Tanita Maknab
Putri Rahyu
Nuril Zam Zami Ilman
Nitalia Al Khoriah


Perbandingan Mazhab dan Hukum
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2012

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulilah segala puji bagi Allah SWT tuhan semesta alam yang telah mencurahkan nikmat, taufiq, Inayah, dan karunia-Nya kepada kami sehingga kamindapat menyelesaikan makalah bahasa Indonesia ini. Shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga ,sahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Dengan berbagai kekurangan yang menyertainya. Makalah ini disajikan sebagai bagian dari upaya penulis untuk menjelajah dan memahami transliterasi bahasa Arab-Latin. kami sadar bahwa terwujudnya makalah ini  adalah berkat bantuan banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pembicaraan  santai, memberikan tanggapan terhadap gagasan yang kami kemukakan. Untuk itu kepada mereka semua penulis berhutang budi. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini. Secara khusus terima kasih kami mangucapkan kepada Ibu Aninda Aji Siwi selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia, orang tua yang telah memberikan dorongan semangat, serta teman-teman yang telah memberikan kritik dan saran dalam pembuatan makalah ini. Tidak lupa penulis meminta ma’af  kepada pembaca bila dalam penulisan makalah ini banyak kekurangannya.
Akhirnya dengan menengadahkan tangan dan memohon kehadirat-Nya semoga usaha yang sangat kecil ini dicatat sebagai bagian dari amal shalih yang membawa jariah. Amin
Wassallam

Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

Transliterasi Arab-Latin merupakan salah satu program penelitian Puslitbang Lektur Agama, Badan Litbang Agama, yang pelaksanaannya dimulai tahun anggaran 1983/1984.
Transliterasi Arab-Latin memang dihajatkan oleh bangsa Indonesia karena huruf Arab dipergunakan untuk menulis kitab suci agama islam berikut penjelasannya dalam (Al-Qur’an dan Hadits). Sementara bangsa Indonesia mempergunakan huruf  Latin untuk menuliskan bahasanya. Karena ketiadaan pedoman yang baku yang dapat dipergunakan oleh umat islam di Indonesia yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia, transliterasi Arab-Latin yang terpakai dalam masyarakat banyak ragamnya. Dalam menuju kearah pembakuan itulah Puslitbang Lektur Agama melalui penelitian dan seminar berusaha menyusun pedoman yang diharapkan dapat berlaku secara nasional.
Pedoman transliterasi Arab-Latin yang baku telah lama didambakan karena ia sangat membantu dalam pemahaman terhadap ajaran dan perkembangan islam di Indonesia. Umat islam di Indonesia tidak semuanya mengenal dan menguasai huruf Arab. Badan Litbang Agama, dalam hal ini Puslitbang Lektur Agama dan instansi lain yang ada hubungannya dengan kelekturan sangat memerlukan pedoman yang baku tentang transliterasi Arab-Latin yang dapat dijadikan acuan penelitian dan pengalih hurufan dari Arab ke Latin dan sebaliknya.
Dari hasil penelitian dan penyajian pendapat para ahli diketahui bahwa selama ini masyarakat masih menggunakan transliterasi yang berbeda-beda. Usaha penyeragaman sudah pernah dicoba, baik oleh instansi maupun perorangan. namun hasilnya belum ada yang bersifat menyeluruh, dipakai oleh seluruh umat islam di Indonesia. Oleh karena itu dalam mencapai usaha keseragaman, adanya Pedoman transliterasi Arab-Latin baku dikuatkan dengan suatu surat keputusan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk digunakan secara resmi serta bersifat nasional.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sistem Transliterasi Arab-Latin
Transliterasi dimaksudkan sebagai pengalihan huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Transliterasi Arab-Latin di sini ialah penyalinan huruf-huruf Arab dengan huruf-huruf latin beserta perangkatnya. Menurut kamus besar Indonesia, transliterasi atau alih huruf adalah penggantian huruf dari huruf abjad yang satu ke abjad yang lain (terlepas dari lafal bunyi kata yang sebenarnya).
Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri P & K RI No. 158/1987 dan No. 0543 b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1987
1.      Konsonan Tunggal
Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf,dalam pedoman ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian lagi dilambangkan dengan huruf dan tanda sekaligus.
Huruf Arab
Nama
Huruf Latin
Keterangan
ا
Alif
Tidak dilambangkan
Tidak dilambangkan
ب
Bā’
B
Be
ت
Tā’
T
Te
ث
Sā’
S
Es ( titik di atas)
ج
Jīm
J
                                Je    
ح
Hā’
H
                 Ha (titik di bawah)
خ
Khā’
Kh
Ka dan ha
د
Dāl
D
De
ذ
Zāl
Ż
Zet ( titik di atas)
ر
Rā’
R
Er
ز
Zāi
Z
Zet
س
Sīn
S
                                Es
ش
Syīn
Sy
Es dan Ye
ص
Shād
Sh
Es ( titik di bawah)
ض
Dhād
Dh
De ( titik di bawah)
ط
    Thā’
Th
Te(titik di bawah)
ظ
Zhā’
Zh
Zet( titik di bawah)
ع
ʿAin
‘-ʿ
Koma terbalik (diatas)
غ
Gain
G
Ge
ف
Fā’
F
Fe
ق
Qāf
Q
Qi
ك
Kāf
K
Ka                                 
ل
Lām
L
El
م
Mīm
M
Em
ن
Nūn
N
En
ه
Hā’
H
We
و
Wau
W
Ha
ء
Hamzah
tidak dilambangkan atau (-)
apostrof, tetapi lambang ini tidak dipergunakan untuk hamzah di awal kata
ي
Yā’
Y
Ye

2.      Konsonan Rangkap
konsonan rangkap yang disebabkan Syaddah ditulis rangkap.
            Contoh :     نزّ ل ditulis nazzalaبهنّ   ditulis bihinna
                           ربّن  ditulis rabbana

3.      Tā’ marbūṭahdi akhir kata
            Transliterasinya menggunakan :
a.        Arab yang sudah terserap menjadi bahasa Indonesia, seperti salat, zakat, dan sebagainya.
Contoh :طَلْحَ    ditulis ṭalhah
                                             فا طمه    ditulis faatimah
b.      Pada kata yang terakhir dengan tā’ marbūṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka tā’ marbūṭah itu ditransliterasikan dengan h.
                   Contoh : رَوْضَةُ اْلاَطْفَالِ  ditulis  rauḍah al-aṭfāl
c.       Bila dihidupkan ditulis t.
                   Contoh : رَوْضَةُ اْلاَطْفَالِ  ditulis  rauḍatul aṭfāl
Huruf ta marbuthah di akhir kata dapat dialihaksarakan sebagai t atau dialihbunyikan sebagai h (pada pembacaan waqaf/berhenti). Bahasa Indonesia dapat menyerap salah satu atau kedua kata tersebut.
Transliterasi
Transkripsi waqaf
Kata serapan
Haqiqat
haqiqah
Hakikat
mu’amalat
mu’amalah
muamalat, muamalah1
mu’jizat
mu’jizah
Mukjizat
musyawarat
musyawarah
musyawarat, musyawarah1
ru’yat
ru’yah
rukyat,1 rukyah
Shalat
shalah
Salat
Surat
surah
surat,2 surah1, 3
syari’at
syari’ah
syariat,1 syariah





Catatan :
1)      Penulisan kata yang disarankan oleh KBBI
2)      Kata ‘surat’ bermakna umum.
3)      Kata ‘surah’ bermakna khusus. Kata ini yang disarankan oleh KBBI jika yang dimaksud.

4.      Vokal Pendek
                    Harakat fathah ditulis a, kasrah ditulis i, dan ḍammah ditulis u.
                    Contoh:           كَس   ditulis     kasara
يَضْرِبُ  ditulis     yaḍribu
جَعَلَ    ditulis     ja‘ala
سُئِلَ     ditulis      su’ila
5.      Vokal Panj
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan       huruf/transliterasinya berupa huruf dan tanda. Vocal panjang ditulis, masing-masing dengan tanda hubung (-) diatasnya atau biasa ditulis dengan tanda caron seperti (â, î, û).
               Contoh:      
a.       Fathah + alif ditulis a
فلا  ditulis     fâala
b.      Kasrah  +ya’ mati ditulis i
مىشاق  ditulismiisaaq
c.       Dammah + wāwu mati ditulis u
أصول     ditulis   ushuul
    قَالَ      ditulis     qâala
                       قِيْلَ       ditulis     qiîla
     يَقُوْلُ   ditulis     yaqûulu
6.      Vokal Rangkap
A.    Fathah + yā’ tanpa dua titik yang dimatikan ditulis ai (أي).
Contoh:    كَيْفَ       ditulis     kaifa
B.     Fathah + wāwu mati ditulis au (او).
Contoh:    هَوْلَ         ditulis     haula

B.       Vokal-vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata
     Vokal-vokal pendek yang berurutan dalam satu kata, dipisahkan dengan apostrop (’) danapabila ia terletak di tengah atau akhir kata. Apabila terletak di awal kata, transliterasinya seperti huruf alif, tidak dilambgkan.
Contoh:       تَأخُذُوْنَ      ditulis     ta’khużûna
              تُؤْمَرُنَ       ditulis    tu’maruna                 
     أُمِرْت                             ditulis     umirtu
                             أَكَلَ        ditulis     akala

C.      Kata Sandang Alif + Lam (ال)
Transliterasi kata sandang dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a.    Kata sandang diikuti huruf syamsiah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu atau huruf lam diganti dengan huruf  yang mengikutinya.
             Contoh :   اَلرَّحِيْمُ    ditulis     ar-Rahîmu
                        الـرجـال       ditulis     ar-rijâl.
                          الرَّجُلُ        ditulis     ar-rajulu
                                            لسَّيِّدُا           ditulis     as-sayyidu
                                          الشَّمْسُ           ditulis     as-syamsu

        b.    Kata sandang diikuti huruf qamariah
        Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariahditulis al-.
        Contoh :  اَلْمَلِكُ       ditulis    al-Maliku
                   الـكافـر          ditulis   al-kâfirûn.
                        القَلَمُ        ditulis     al-qalamu

D.      Huruf Besar
Huruf  besar yang disebut juga huruf kapital merupakan unsur kebahasaan yang mempunyai permasalahan yang cukup rumit.Penggunaan huruf kapital disesuaikan dengan EYD walaupun dalam sistem tulisan Arab tidak dikenal. Kata yang didahului oleh kata sandang alif lam, huruf yang ditulis kapital adalah huruf awal katanya bukan huruf awal kata sandangnya kecuali di awal kalimat, huruf awal kata sandangnya pun ditulis kapital.
            Contoh:  البُخاَرِي      ditulis     al-Bukhârî
                                                  الرِسَالَة       ditulis     al-Risâlah
                                                   البَيْهَقِي       ditulis     al-Baihaqî
                                                    المُغْنِي       ditulis     al-Mugnî

E.       Kata dalam Rangkaian Frasa atau Kalimat
a.       Ditulis kata perkata, atau
b.      Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya dalam rangkaian tersebut                    
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim maupun huruf, ditulis terpisah, hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazimnya dirangkaikan dengan kata lain. Karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan, maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya.
            Contoh :مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلً ditulis  Man istaṭâ’a ilaihi sabîla
                           وَاِنَّ اللهَ لَهُوَ خَيْرٌ الرَّازِقِيْنَ    ditulis Wa innallâha lahuwa  khair al-râziqîn atau
                                                                     Wa innallâha lahuwa  khair al- 
                                                                      khairurrâziqîn
Huruf Arab dalam rangkaian mempunyai tiga macam bentuk menurut letaknya masing-masing: di muka, di tengah dan di belakang, sedang huruf yang terpisah (tak dirangkaikan) mempunyai bentuk sendiri, kecuali enam huruf yaitu:
                                                            و - ز - ر - ذ - د ا
       tak mungkin tersambung dari belakangnya.

F.     Penyerapan Kata
Beberapa penulis menggunakan sumber berbahasa Inggris beserta alih aksaranya.Dalam bahasa Inggris, yang sering digunakan adalah alih aksara Qalam.Kadang-kadang, perbedaan alih aksara tersebut dengan alih aksara kritis Indonesia menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan pembacaan. Kata dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia mengalami penyederhanaan atau perubahan, baik dalam hal penulisan maupun pengucapannya. Sebagai contoh, huruf ق (qaf) pada Irak, Ya’kub, akhlak, fikih, kadar, dan kaidah telah diserap menjadi k, sedangkan pada pada Qur’an dan Masjidil Aqsa tetap bentuknya dan dialihaksarakan sebagai q.
Setiap kata serapan dapat mengalami satu atau lebih hal-hal berikut:
a.       Pengabaian apostrof (‘) untuk alih aksara ainhidup.
b.      Hamzah hidup tidak dilambangkan.
c.       Hamzah mati di akhir kata tidak dilambangkan.
d.      Pengabaian huruf ya yang ditasydid dengan huruf sebelumnya dibaca kasrah
e.       Kata sandang “al” diabaikan atau ditulis bersambung.
f.       Penyederhanaan alih aksara sh/ṣ dan ts/ṡ menjadi s.
g.      Penyederhanaan alih aksara dz/ż menjadi z.
h.      Penyederhanaan alih aksara zh/ẓ menjadi Penyederhanaan alih z.
i.        Perubahan alih aksara zh/ẓ menjadi l.
j.        Penyederhanaan alih aksara dh/ḍ menjadi d.
k.      aksara th/ṭ menjadi t.
l.        Perubahan alih aksara f menjadi p.
m.    Perubahan alih aksara q menjadi k.
n.      Perubahan alih aksara ainmati menjadi k.
o.      Perubahan alih aksara hamzahmati di tengah kata menjadi k. r.Alih aksara diftong menggunakan u atau i.
    p.   Perubahan dialek dari harakat hidup (a, i) menjadi e.
    q.   Penyisipan huruf sesuai harakat huruf ketiga dari akhir (a,             
          ,atau u) pada kata bahasa                                 
          r.   dengan  huruf kedua dari akhir dibaca mati.

  Tabel di bawah ini menyajikan perbandingan antara alih aksara dan   kata serapan tersebut.
No.
Penulisan Arab
Alih aksara kritis
Alih aksara diplomatik
Perubahan
Kata dari alih aksara kritis
Kata serapan
1.a.
عَ
‘a
‘a
A
Assalamu’alaykum, ‘alayhissalam, syari’at, ‘Ashr, ‘Abdullah, ‘Abdul Muththalib, ‘Aisyah, Ibn ‘Abbas, ‘Utsman ibn ‘Affan, Mu’adz, Fir’awn, jama’ah, Jumat
Assalamualaikum, alaihissalam, syariat, Ashar, Abdullah, Abdul Muttalib, Aisyah, Ibnu Abbas, Utsman bin Affan, Muadz, Firaun, jamaah, Jumat
b.
عِ
‘i
‘i
I
‘Isa, ‘Isya’, ‘Idul Fithri, ‘Idul Adhha, al-’Iraq, dhu’afa’, dha’if, adh-Dha’ifah
Isa, Isya, Idul Fitri, Idul Adha, Irak, duafa, dhaif, adh-Dhaifah
c.
عُ
‘u
‘u
U
‘Umar ibn al-Khaththab, ‘Utsman ibn ‘Affan, ‘ulama`
Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, ulama
2.
ء
` atau ‘
tidak dilambang-
kan atau ‘
tidak dilambang-
kan
Al-Qur’an, an-Nasa’iyy
Al-Quran, an-Nasai
3.
ءْ
` atau ‘
tidak dilambang-
kan
tidak dilambang-
kan
Isra’, ‘Isya`, ‘ulama`, dhu’afa`, Muwaththa’
Isra, Isya, ulama, duafa, Muwatta
4.
ـِيّ
Iyy
‘a
I
Yahudiyy, Nashraniyy, nabiyy, kursiyy, al-Khudriyy, al-Bukhariyy, an-Nasa’iyy, an-Nawawiyy, al-Albaniyy, ma’shiyyat
Yahudi, Nasrani, nabi, kursi, al-Khudri, al-Bukhari, an-Nasai, an-Nawawi, al-Albani, maksiat
5.a.
اَلْ
al-
al-
Diabaikan
Al-Qur’an, Al-’Iraq, ‘Umar ibn al-Khaththab, al-Bukhariyy, an-Nasa’iyy, an-Nawawiyy, al-Albaniyy
Quran, Irak, Umar bin Khattab, Bukhari, Nasai, Nawawi, Albani
b.
اَلْ
al-
al-
Al-(ditulis bersambung)
Al-Kitab, Al-Qur’an
Alkitab, Alquran
6.a.
ص
Sh
S
Masjidil Aqsha, Bashrah, ikhlash, shadaqah, shahih, shalat, shubh, ‘ashr, tashhih, ma’shiyyat, mushhaf, Nashraniyy
Masjidil Aqsa, Basrah, ikhlas, sedekah, sahih, salat, subuh, asar, tashih, maksiat, mushaf, Nasrani
b.
ث
Ts
S
hadits, ‘Utsman
hadis, Usman
7.
Dz
ż
Z
adzab, adzan, muadzin, madzhab
azab, azan, muazin, mazhab
8.
Zh
Z
hafizh, zhahir, zhalim, zhuhr
hafiz, zahir, zalim, zuhur
9.
Zh
L
hafazh, nazhar, zhahir
hafal, nalar, lahir
10.
ض
Dh
D
dhu’afa`, haidh, ridha, Ramadhan, ‘Idul Adhha, Khidhr
duafa, haid, rida, Ramadan, Idul Adha, Khidir
11.
ط
th
T
‘Abdul Muththalib, ‘Umar ibn al-Khaththab, Fathimah, ‘Idul Fithri, fithrah, Muwaththa’, sulthan
Abdul Muttalib, Umar bin Khattab, Fatimah, Idul Fitri, fitrah, Muwatta, sultan
12.
ف
F
f
P
fahm, nafs
paham, napas
13.
ق
Q
q
K
Ya’qub, al-’Iraq, aqidah, akhlaq, fiqh, haqiqah, munafiq, shadaqah, taqwa, qaidah, waqf
Ya’kub, Irak, akidah, akhlak, fikih, hakikat, nifak, munafik, sedekah, takwa, kaidah, wakaf
14.
عْ
K
Jama’, da’wah,  ma’shiyyat, mu’jizat, ta’dil
Jamak, dakwah,  maksiat, mukjizat, takdil
15.
ؤْ
K
mu’min, ru’yat
mukmin, rukyat
16.a.
ـَوْ
Aw
au
Au
Fir’awn, Sawdah
Firaun, Saudah
b.
ـَيْ
Ay
ai
Ai
Al-Layl, Layla, Assalamu’alaykum, Baytullah, Hudzayfah
Al-Lail, Laila, Assalamualaikum, Baitullah, Huzaifah,
17.a.
ـَ
A
a
E
Jama’ah, Makkah, masjid, shadaqah, syaikh
Jemaah, Mekkah, mesjid, sedekah, syeikh
b.
ئِ
I
i
E
Faidah, qaidah
Faedah, kaedah
18.a.
ـَـْ
-
-
sisipan a
‘Ashr, fahm, fajr, khamr, Abu Bakr, Abu Jahl, waqf
Asar, paham, fajar, khamar, Abu Bakar, Abu Jahal, wakaf
b.
ـِـْ
-
-
sisipan i
fiqh, Khidhr
fikih, Khidir
c.
ـُـْ
-
-
sisipan u
hukm, shubh, zhuhr
hukum, subuh, zuhur

G.    Hamzah
a.       Bila terletak di awal kata, maka ditulis berdasarkan bunyi vokal yangmengiringinya.
     إنّ   ditulis inna         
b.      Bila terletak di akhir kata, maka ditulis dengan lambang apostrof (`).
و طء   ditulis wath`un
c.       Bila terletak di tengah kata dan berada setelah vokal hidup, maka ditulis
      Vokalnya.
           ربا ئب    ditulis rabaa`ib
d.      Bila terletak di tengah kata dan dimatikan, maka ditulis dengan lambang    apostrof ( ` ).
      تا خذ و ن      ditulis ta`khuzuuna.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Transliterasi merupakan pengalihan huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Sedangkan transliterasi Arab-Latin merupakan penyalinan huruf Arab dengan huruf-huruf latin beserta perangkatnya. Transliterasi Arab-Latin memiliki peranan yang penting . Dikatakan penting karena tidak semua umat islam di Indonesia menguasai bahasa Arab. Untuk itu transliterasi Arab-Latin ini sangat membantu dalam pemahaman terhadap ajaran dan perkembangan islam di Indonesia.

B.     Saran
Untuk penulis : Diharapkan untuk lebih bisa menambahkan atau memperluas pengetahuan tentang transliterasi Arab-Latin dengan cara memperbanyak buku yang berhubungan dengan transliterasi Arab-Latin,mengadakan penelitian,dan seminar.
Untuk Pembaca : Diharapkan agar bisa meningkatkan minat membaca tentang transliterasi Arab-Latin sehingga pemahaman tentang bahasa Arab khususnya di Indonesia menjadi lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA
 
Srinugraheni, Aninditya dan Suyadi, 2011, Mahir Menulis Karya Ilmiah Bahasa Indonesia,Yogyakarta:Metamorfosa Press.
Depag, RI, 2003,Pedoman Transliterasi Arab-Latin, Jakarta:Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar